Cerita Desca Menaklukkan Dinginnya Tokyo Marathon 2019

Cerita Desca Menaklukkan Dinginnya Tokyo Marathon 2019

Grup Whatsapp Journalist Runners berkedip. Isinya tautan lotre pendaftaran Tokyo Marathon (Tokmar) 2019. Penasaran, saya buka dan membacanya pelan-pelan. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftarkan diri hari itu juga.

Oh iya, saat saya mendaftar, saya belum pernah lari maraton 42,195 kilometer sekalipun. Apa rasanya dan bagaimana latihannya, sama sekali belum terbayangkan. Modal nekat, boleh dibilang begitu.

Modal nekat itulah yang akhirnya mengantarkan saya, pada akhirnya, berlari maraton untuk pertama kalinya di Bali tepatnya enam bulan sebelum berlari di TokMar.

Ada yang bilang, Jakarta dan Bali tempat yang paling berkesan untuk melepaskan status “keperawanan” maraton. Ya boleh percaya, boleh enggak sih. Yang jelas sekarang saya enggak culun-culun amat menghadapi maraton.

Sebulan setelah mengikuti Bali Marathon, pada 25 September 2018, sebuah pesan yang dikirim dari negeri Sakura masuk ke kotak email: Congratulations! You have been accepted for participant. Nama saya menjadi salah satu peserta TokMar 2019 dari total 330.271 pendaftar di dunia.

Saya bengong sejenak. Tak menyangka atas apa yang baru dibaca. Senang tapi juga gamang. Bayangan bagaimana menjalani latihan maraton kembali terlintas. Apa saja yang perlu dipersiapkan? Apakah ada pelari lain yang saya kenal di sana? Bagaimana membiayai pendaftaran, perjalanan dan kebutuhan lain di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini melayang-layang di atas kepala.

Berdasarkan penggalaman para pelari alumni TokMar, hal yang mesti dipikirkan pertama kali oleh pemenang lotre ialah membayar slot. Jangan sampai batas waktu pelunasan berakhir dan hanya bisa menyesal seumur hidup karena menyia-nyiakan kesempatan berlari di salah satu ajang World Marathon Majors kawasan Asia itu.

Tak mau penyesalan itu menjadi kenyataan, saya lunasi pembayaran TokMar menggunakan kartu kredit seperti syarat yang diminta. Membayar lomba merupakan langkah awal komitmen latihan. Hal itu membuat saya dapat berkonsentrasi menyiapkan menu latihan.

Karena saya tidak menggunakan jasa pelatih personal, youtube jadi salah satu sumber referensi latihan. Belajar teknik, kekuatan, daya tahan, nutrisi ditambah wejangan-wejangan dari para pelari maraton.

Memutuskan berlatih sendiri bukan tanpa alasan. Bekerja sebagai wartawan yang bertugas di istana kepresidenan dan pengadilan membuat waktu latihan amburadul. Pulang malam, dinas luar kota, dikejar-kejar dateline merupakan tantangan yang harus saya hadapi.

Maka saya harus menyiasati waktu latihan. Lari jarak pendek dikombinasikan penguatan otot saya kerjakan Senin-Jumat sementara long run pada Sabtu. Latihan dilakukan dalam rentang Oktober 2018-Februari 2019.

Saya menilai kondisi riil latihan hanya 60-70 persen dari target. Hal yang cukup menolong adalah memiliki teman yang saling mengingatkan bangun pagi dan kadang menemani long run di akhir pekan di kawasan Universitas Indonesia, Kebun Binatang Ragunan sampai ke sekitaran BSD Tangsel. Itulah yang memicu semangat saya berlatih.

Latihan sebenarnya makin susah dan sempit pada Februari jelang TokMar karena sudah masuk masa kampanye pemilihan presiden sehingga kunjungan ke daerah makin sering.

Tapi karena anugerah Tuhan, latihan tetap berlanjut di sela kesibukan pekerjaan. Belanja running apparel turut memompa semangat latihan.

Saya juga mulai bergabung dalam Whatsapp Group (WAG) TokMar 2019 yang beranggotakan para pelari kece dan sangat bersemangat sekali mengikuti Tokmar.

Saya merasakan manfaat bergabung di WAG tersebut karena membahas berbagai printilan yang harus dipersiapkan utamanya mengenai cut of point (COP) dan cut of time (COT) yang merujuk pada gross time, juga soal perlengkapan apa saja yang harus dikenakan saat lari.

Persiapan mental saya juga bertambah dengan adanya Workshop Tokyo and Seoul Marathon 2019 yang diselenggarkan Pocari Sweat. Acara menghadirkan Melanie Putria dan para atlet Pocari. Mereka memberikan gambaran jelas apa yang harus dilakukan saat TokMar nanti.

Hingga akhirnya 27 Februari 2019 tiba, hari keberangkatan saya ke Jepang. Excited plus nervous.

Tiba di bandara Narita, Tokyo, saya langsung disambut dengan udara dingin. Dinginnya enggak ketolongan. Parah. Hidung saya sampai meler ditambah hujan turun sepanjang hari. Suhunya benar-benar bikin syok. Akibatnya ada sejumlah agenda jalan-jalan yang dibatalkan demi menjaga kesehatan badan.

Saya mengunjungi resort ski di Gala Yuzawa, mengambil racepack, carbo loading bersama peserta Indonesia di KBRI Tokyo. Tak ketinggalan aklimatisasi berlari pada jam yang sama dengan hari lomba. Hasilnya hidung saya kembali meler.

Hari Perlombaan

Pada hari lomba saya menstruasi. Kaget sih enggak, karena saya sudah persiapan membawa pembalut tapi tak menyangka bakal kejadian pas hari lomba. Berdasarkan perhitungan, seharusnya menstruasi datang setelah hari lomba atau Senin.

But no time to be such a grumpy girl, the show must go on. Satu-satunya kekhawatiran saya sebenarnya bukan ‘tamu bulanan’ tetapi blister. Semua pelari memang takut sama yang namanya cidera.

Turun ke lobi hotel, dua pelari Indonesia sudah menanti. Ada mbak Iren, pelari cantik dan baik hati yang berlari untuk kegiatan amal dan mbak Tia, jurnalis Jawa Pos yang berlari sekalian liputan dan vakansi bersama anaknya.

Kami bertiga berangkat bersama menumpang kereta menuju Shinjuku Station ke area start di Tokyo Metropolitan Government Buildings.

Keluar dari kereta tampak banyak sekali pelari yang siap ikut TokMar. Beberapa di antaranya sudah mengenakan jas hujan. Dan ternyata di luar stasiun turun hujan. Saya pun mengenakan jas hujan yang saya beli di indomaret sewaktu di Jakarta seharga Rp9.900.

Kami bertiga kemudian berpencar menuju gate start masing-masing. Saya dan mbak Iren di gate 1 K sedangkan mbak Tia lebih dekat di 1 J. Puluhan ribu peserta menyebar ke 12 area start A-L.

Masuk ke area start barang bawaan diperiksa. Sebotol Pocari Sweat diambil petugas karena dilarang dibawa. Tadinya botol kecil itu akan saya genggam selama berlari.

Selesai pemeriksaan, saya dan mbak Iren masih harus mencari tempat penitipan barang sambil melewati jejeran para pelari yang antre ke toilet. Ratusan bilik toilet tersebar di beberapa titik untuk melayani 38 ribu pelari.

Melihat antrean mengular, saya batalkan ke toilet. Waktu sudah menunjukkan sekira pukul 08.05 atau 1 jam 5 menit menuju dimulainya lomba pada 09.10, khawatir mepet saya melanjutkan jalan ke titik start.

Menuju area K, di hadapan kami sudah berjejer para pelari dengan jersey kebangaan masing-masing. Ada yang mengenakan jaket tebal, ponco, celana panjang, dll. Barang-barang itu kerap dilepas dan dilempar ke sisi pagar pembatas beberapa menit sebelum start.

Saya yang berupaya menghangatkan diri sambil pemanasan ala-ala, tak sengaja mencipratkan lumpur ke pelari yang berdiri di belakang saya. Ia tampak ngedumel. Kelihatannya memang dia pecinta kebersihan karena sepatunya saja dibungkus plastik.

Mendekati waktu start, masalah buang air kecil belum selesai. Letak toilet yang cukup jauh dan panjangnya antrean, terpaksa saya mengompol.

Ini juga yang disarankan Melanie Putria saat sesi workshop kemarin. Banyaknya waktu yang terbuang ketika mengantre bisa menganggu konsentrasi menuju start. Kebayangkan kan bagaimana rasanya menstruasi dan kencing di satu celana, haha.

Hingga akhirnya waktu menunjukkan 9.10, terdengar letusan di garis start bagian A. Area A lebih dulu start sementara peserta di area lain masih harus menunggu untuk berlari (atau mulai berjalan pelan menuju garis start).

Sekira 20 menit berjalan, barulah saya dan peserta di area K mulai berlari. Tampak warga Tokyo maupun penonton lainnya bertepuk tangan dan bersorak di kiri dan kanan jalan.

Jujur saja, selama di Jakarta, saya belum pernah lari diguyur hujan. Ini baru pertama kali merasakan lari hujan-hujanan di negeri orang dengan suhu fantastis mencapai 6 derajat celcius.

Topi yang saya kenakan sangat bermanfaat menghalangi air hujan yang menetas ke mata. Sarung tangan tidak ketinggalan saya kenakan dilengkapi dua lapis buff dan masker untuk mengindari hidung meler.

Saya membawa bekal beberapa butir kurma dan 3 GU GEL. Awalnya saya ingin mendengarkan musik sepanjang lari tapi niat itu saya batalkan karena hujan. Lagipula kalau denger musik enggak bisa mendengarkan cheering penonton yang katanya enggak habis-habis sampai garis finis.

Memasuki 10 kilometer pertama, lari masih berjalan lancar. Hujan rintik-rintik diselingi angin dingin terus membayangi. Water station dan toilet tersebar di pinggir jalur lomba. Saya enggak berani mengantre karena dibatasi oleh COP di sejumlah titik.

Meski saya belum pernah mengikuti race yang memiliki aturan COP-nya tapi saya mencoba taat agar tidak melewati COP yang ada di titik 5.6, 9.9, 14.6, 19.7, 25.7, 30.1, 34.2, 39.8 K. Bila dirasa terlalu pelan, saya naikkan kecepatan agar bisa selamat dari batas COP.

Saya menikmati sekali melihat keseruan para penonton yang cheering sambil menawarkan banyak banget makanan ke para pelari, mulai dari cokelat, buah, air dan lainnya. Penontonnya bukan cuma orang dewasa tapi juga anak-anak kecil dan opa/oma sambil teriak “ganba, ganba, ganbatte”. Lebih seru lagi ketika mereka bertemu orang yang mereka kenal, pasti langsung diteriaki.

Ada peserta lari yang pakai kostum lucu-lucu seperti kostum pisang, bebek, serigala, kimono, doraemon, sailormoon, dll. Niatnya mau foto mereka tapi apa daya tangan kedinginan bahkan buka sarung tangan pun rasanya sulit banget.

Untuk menambah tenaga, saya mulai mengunyah GU Gel dan kurma. Makannya penuh dengan penuh perjuangan karena agak kesulitan membuka sarung saat sedang dingin-dinginnya.

Dengan pace jogging akhirnya saya melewati kilometer kritis di 21 tapi menjelang km 30 sudah pengap banget dan pengen jalan saja. Tapi melihat pelari sweeper berbalon kuning ada di belakang sambil teriak-teriak, seketika itu saya belingsatan dan langsung lari ngibrit takut terciduk bus kuning pengangkut pelari yang melewati COP. Di belakang sweeper, ada mobil yang memberi peringatan COP 30 km dengan suara menggelegar. Bikin hati jiper.

Padahal di belakang saya ada ratusan pelari sedang berupaya mengejar sweeper. Saya pun lari sejajar mobil tepat saat pagar sudah mau ditutup, saya berhasil nyeplos. Kurang lebih 5 menit saya kejar-kejaran dengan sweeper tapi terasa seperti setengah jam karena kelelahan.

Saya kapok jalan santai dan memaksa diri terus berlari berapa pun pace-nya. Setiap ada penonton yang menawarkan cokelat atau apalah itu saya ambil untuk menambah tenaga. Dan hebatnya jalanan enggak pernah kosong karena selalu ada supporter dan volunteer yang berteriak dan berjaga di pinggir jalan.

Jalan aspal di Tokyo yang lurus-lurus saja dan minim tanjakan/turunan terasa panjang banget. Apalagi saya sudah melihat orang-orang di belakang saya mulai banyak berkurang.

Awalnya saya berencana finis 5 jam 10 menit tapi rencana itu gagal total karena pada waktu 5 jam posisi saya masih di kilometer 35-an, itu saja masih bingung kapan selesainya.

Namun karena dibayang-bayangi balon-balon sweeper, saya tak berani sering-sering menengok ke belakang dan fokus lari semampunya menjauh dari bus kuning itu.

Sampai akhirnya saya melihat papan tanda 41 km. Saya berupaya sekuat-kuatnya menggerakkan kaki dan tangan menuju garis finis yang sudah ramai orang. Beberapa pelari yang sebelumnya saya sempat lewati langsung kencang menuju finish di sekitaran Tokyo Station.

Momen happy pun akhirnya benar-benar terjadi. 6 jam 18 menit total saya berlari sepanjang 42,195 km di bawah guyuran hujan dan udara dingin yang bikin tangan mengkerut.

Di garis finish saya bertemu om Robert, kontingen Indonesia dari Jakarta yang juga exited plus speechless karena berhasil finis. Doi juga sempat cerita hampir terciduk bus kuning di kilometer 30 (seperti saya) dan kilometer 39, nanggung banget kalau sampai terciduk padahal tinggal 2 kilo lagi, kan!

Kami pun tidak melewatkan berfoto di garis finis karena akan menjadi momen spesial seumur hidup.

Selanjutnya kami masih harus berjalan agak jauh untuk dikalungi medali, mendapatkan handuk, blanket TokMar untuk menghangatkan badan, pisang, roti dan produk pocari yang enak banget karena dicoba setelah finis.

Lalu saya mengambil barang untuk mengganti baju. Tempat ganti bajunya ternyata cuma tenda tanpa bilik untuk cewek maupun cowok. Ya sudah semampunya mengganti baju dengan berbagai macam gaya.

Saking dinginnya untuk membuka kaos saja perlu waktu 20 menit. Total membutuhkan waktu sekira 40 menit bersalin baju. Setelah selesai, saya berjalan pelan ke stasiun terdekat menuju ke hotel. 

Well, perjalanan 42,195 km itu sangat membekas dan saya tak akan melupakannya menjadi finisher ke-179 dari total 182 peserta asal Indonesia. Berdasarkan catatan, ada 342 WNI yang terdaftar. Berarti, kemungkinan, sisanya DNF alias do not finish alias tidak finis atau Do Not Start alias batal ikut.

Dengan latihan yang seadanya, udara yang sedingin itu dan “sendiri” dalam perjalanan, saya tetap bangga dengan pencapaian di Tokmar 2019. Lari bagi saya bermanfaat untuk merelaksasi, mengendurkan ketegangan, menyenangkan diri, mencermati apa yang ada di depan mata, sekaligus mengurangi cemberut. Lari jarak panjang berarti menambah waktu merasakan manfaat-manfaat tersebut. Berbagai tantangan yang terjadi saat lari adalah bunga-bunga yang menyegarkan dan menantang untuk dipetik.

Novelis Haruki Murakami dalam buku non-fiksinya soal lari berjudul What I Talk about when I Talk about Running menuliskan hal ini:

“People sometimes sneer at those who run every day, claiming they’ll go any length to live longer. But I don’t think that’s the reason most people run. Most runners run not because they want to live longer, but because they want to live life to the fullest. If you’re going to while away the years, it’s far better to live them with clear goals and fully alive than in a fog and I believe running helps you do that. Exerting yourself to the fullest within your individual limits: that’s the essence of running and a metaphor for life-and for me, for writing as well”.

Well, I’m not mimicking Haruki Murakami per se even I have no ability trying to mimic him- but I do believe what he believes, that running (a marathon) teach me how to set goal and face it until the finish line. So see you next full marathon.

Desca Lidya Natalia,
Jurnalis Kantor Berita Antara

Sumber foto 1: instagram
Sumber foto 2: instagram

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.