Menjajal Tokyo Marathon 2018

Menjajal Tokyo Marathon 2018

Ini adalah foto satu-satunya yang sempat diabadikan usai menuntaskan hajatan besar Tokyo Marathon pada Minggu pagi (25/2/2018).

Dinginnya suhu mencapai 3 derajat celsius membuat saya tak kuasa berdiri lama di area finis yang disesaki ribuan pelari penamat.

Dengan langkah gontai dan tubuh menggigil, saya meninggalkan area finis menuju subway dekat Hibiya Park untuk kembali ke penginapan di Higashi Shinjuku sambil diselimuti towel dan thermal blanket.

Tak ada foto bersama teman-teman sambil menggigit medali dan mengibarkan bendera merah putih. Semua janji bertemu saya batalkan.

Setibanya di hotel, saya langsung berendam air hangat di bathtub. Rasa dingin yang sedari tadi membekap tubuh pelan-pelan lenyap. Perasaan menjadi lebih tenang, pikiran pun terang.

Kelar berendam, ditemani teh hangat dan kudapan roti sisa semalam, saya membuat catatan kecil pencapaian maraton pagi tadi untuk bahan renungan dan evaluasi.

Start – 5K

Menunggu gun time selama satu jam membuat badan kedinginan. Lompat-lompat, stretching, mengobrol, hanya itu yang bisa saya lakukan untuk mengusir dingin. Berdiri berdempetan dengan ribuan peserta di belakang garis start (blok E) lumayan bisa mengurangi tiupan angin dingin. Inilah cobaan berat pelari-dua-musim, enggak terlalu kuat berlama-lama menahan dingin.

Pukul 09:10, garis start dilepas. Dari kejauhan guyuran kertas bertebaran di udara menghiasi areal gedung pemerintahan metropolitan Tokyo. Sorak-sorai membahana dari setiap sudut kursi penonton. Meriah sekali.

Saya merinding menyaksikan antusiasme warga Tokyo memberikan semangat tanpa henti kepada 36 ribu pelari dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Saat melewati start, waktu sudah berlalu sekira 3 menit. Saya menekan laju agar target 20-22 menit per 5 km dapat tercapai, begitu hemat saya merujuk pada simulasi target.

Pada kilometer awal, jalur lomba masih sangat padat. Bersenggolan antarpundak pelari tak terelakan lagi. Terpaksa saya mengeluarkan jurus zig-zag guna melepaskan diri dari kepadatan di jalur lomba. Memasuki kilometer 3, saya mulai leluasa berlari. Oh yes!

5 – 10K

Di kilometer ini saya mulai menemukan laju sesungguhnya. Sebab jarak antarpelari sudah cukup lebar. Saya bisa berlari dengan fokus tanpa harus bermanuver ke kiri dan ke kanan seperti lirik lagu Gemu Fa Mi Re itu. Ini berjalan sesuai dengan harapan. Pace mampu dikontrol di posisi 4:05 – 4:10/km

10 – 15K

Bisikan speed terdengar kencang di telingga. Ia datang tanpa suara. Diam-diam menyergap. Daya gedornya mampu merusak pikiran. Banyak pelari mengaku terjebak oleh rayuannya, yang berakhir dengan kegagalan. Saya tak mau terkecoh, saya tetap berlari di posisi aman tanpa tergoda menambah kecepatan.

15 – 20K

Merasakan tubuh mulai hangat tapi anehnya saya tidak mengeluarkan keringat sama sekali. Meski begitu, dingin tetap membekap kulit yang tak tertutupi. Maklum saja saya cuma memakai celana pendek, kaos lengan pendek, kaos kaki sedengkul dan buff merek Eiger (lihat: foto finis)

Kesimpulannya: badan hangat tapi terasa dingin. Badan bugar tapi terasa dingin. Semuanya serba dingin, dingin dan dingin.

20 – 25K

Kenikmatan berlari masih saya rasakan hingga separuh jarak lomba. Menguatkan diri dalam hati: separuh jarak lagi, ayo pasti bisa. Saya kemudian melihat jam tangan, angka menunjukkan waktu 90 menit. Target pribadi masih realistis untuk diwujudkan, enggak jelek-jelek amat.

25 – 30K

Tersisa kurang dari separuh perjalanan lagi untuk bisa menyelesaikan seri perdana World Marathon Majors. Saya pasti mampu, begitu gumam saya percaya diri. Omongan dalam hati itu terus diulang-ulang sampai menyentuh kilometer 25.

Namun entah kenapa, rasa nikmat itu perlahan-lahan luntur. Tubuh menjadi lebih dingin dan akhirnya menggigil. Kedinginan sudah menjadi momok menakutkan saat masih hobi mendaki gunung pada medio 2000-an.

Saya cemas bakal terjadi serangan kecil hipotermia pada tubuh kerempeng ini. Maka saya harus mengatur siasat agar kondisi badan tetap sehat dan selamat sampai ke garis finis.

Toilet! Kata itu tiba-tiba saja muncul dalam pikiran dan menjadi solusi sementara menurunkan tekanan suhu tubuh. Bukan cuma toilet yang saya sambangi, gedung-gedung perkantoran di pinggir jalur lomba tak luput saya masuki. Saking seringnya berhenti di toilet, target finis sudah tak lagi penting.

30 – 35K

Saya menegaskan sekali lagi pada diri sendiri bahwa plan A telah gugur. Sekarang tinggal plan B yang menunggu dieksekusi. Saya akhirnya membuntuti rombongan pacer 4 jam yang kebetulan melintas di depan mata sambil menikmati pemandangan kota dan keramahan para suporter di sepanjang jalur lomba.

35 – 42K

Kekuatan tubuh menghadapi ganasnya udara dingin Tokyo akhirnya ambruk juga. Tiupan angin menambah derita, membuat badan seketika menggigil dahsyat.

Tak jauh dari belokan terakhir, saya memutuskan menepi ke pos medis. Petugas membawa saya masuk ke ruang perawatan. Dibaringkan tubuh saya ke atas kasur. Para tenaga medis langsung membungkus tubuh saya dengan selimut berlapis-lapis.

Saya meminta kepada petugas dibuatkan air panas dan dimasukkan ke dalam botol. Botol-botol berisi air panas itulah yang menolong saya mencegah mag perut yang biasanya kambuh bila dingin menyerang.

Kurang lebih satu jam dirawat, badan saya sudah agak enakan. Saya bangkit dari kasur lalu duduk sebentar sambil melihat-lihat situasi di pos medis. Rata-rata pelari yang menepi mengalami kedinginan dan kram kaki.

Diiringi tepuk tangan para tenaga medis, saya berjalan keluar meninggalkan ruang perawatan dengan senyum lebar.

“Ganbatte.. don’t give up.. you can do it,” begitu pekikan para tenaga medis yang membahana di ruang perawatan.

Dorongan moril dari para tenaga medis menambah semangat saya melanjutkan sisa 6 kilometer lagi. Mereka juga memberi kaos agar dikenakan dobel supaya tidak terlalu dingin. Tadinya mereka ingin memberi jaket tapi saya menolak karena bahannya terlalu tebal dan berat untuk dibawa lari.

Saya kembali ke jalur lomba dengan semangat baru. Perasaan saya mengatakan, rasanya ingin segera menyudahi lari saja. Hilang gairah. Berlari lagi setelah satu jam berhenti membuat mesin susah dipanaskan. Saya pun lari santai dengan pace 6-7 sambil kulineran gratis. Tak terasa gerbang finis sudah terlihat di depan mata.

Alhamdulillah akhirnya saya berhasil menjadi finisher Tokyo Marathon 2018 dengan waktu finis 04:31:38, meleset jauh dari target yang saya bawa dari rumah.

Terima kasih Ya, Allah telah mewujudkan mimpi saya berlari di World Marathon Majors. Istri dan anak-anak atas dukungannya selama ini. Wiryawan yang telah membantu membuatkan program latihan sehingga saya mampu berlari berpuluh-puluh kilometer.

Kegagalan Tokyo Marathon 2018 memberikan banyak pelajaran positif bagi perjalanan karir berlari saya. Tentunya ini akan saya jadikan bekal menghadapi maraton berikutnya.

Tak terasa teh hangat dan stok cemilan habis dikunyah ketika hari mulai beranjak malam. Waktunya menidurkan badan dan pikiran. Zzz.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.