Mudik, Lari dan Indahnya Ramadan

Mudik, Lari dan Indahnya Ramadan

Memasuki pekan kedua Ramadan, persiapan mudik lebaran makin terasa. Saya dan istri mulai mencicil mengepak barang-barang yang akan dibawa ke kampung halaman. Mengeluarkan koper dari tempat persembunyian adalah langkah pertama yang dilakukan sebelum memilah pakaian, celana dan keperluan mudik lainnya.

Pemadangan itu kini tak lagi terlihat akibat pandemik Covid-19 yang menginfeksi Indonesia, juga dunia. Penundaan mudik harus dilakukan demi keselamatan bersama. Apalagi pemerintah telah resmi melarang mudik guna memutus penyebaran virus yang kali pertama merebak di kota Wuhan negeri Tirai Bambu itu.

Saya mendukung penuh keputusan pemerintah melarang mudik. Bila ingin virus ini lenyap dari muka bumi, setiap orang harus patuh menaati aturan pencegahan Covid-19. Minimal mengenakan masker, menjaga jarak antarmanusia dan menaati protokol kesehatan.

Di tengah ketidakpastian kapan wabah virus Covid-19 bakal berakhir, sebuah kenangan pahit akan mudik lebaran tiba-tiba terlintas dalam ingatan.

Saya mencoba menulis ulang cerita mudik paling mengenaskan yang pernah saya alami sepanjang hidup, mungkin juga dialami jutaan pemudik di pulau Jawa pada 2016 silam. Begini ceritanya.

Saya dan keluarga berangkat mudik pada Sabtu 2 Juli 2016 pukul 23:00 wib dari Tangerang Selatan menuju Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Dalam perjalanan normal, membutuhkan waktu tempuh sekira 7-8 jam untuk sampai di lokasi tujuan atau maksimal 10-11 jam pada momen mudik lebaran.

Tapi perjalanan mudik tahun itu sungguh di luar dugaan semua orang termasuk otoritas tertinggi di negeri ini. Betapa tidak, saya menghabiskan waktu 49 jam alias dua hari dua malam untuk menembus kemacetan kronis di wilayah Brebes, Jawa Tengah.

Peristiwa menyebalkan ini amat membebani psikis, mental dan kesehatan. Wajah-wajah suntuk terlihat jelas dari orang-orang yang saya saksikan di jalur mudik. Korban berjatuhan tak terelakan.

Saya mencoba menikmati bencana mudik terparah abad ini dengan perasaan pasrah, ikhlas dan menganggap itu bagian dari cobaan puasa yang harus ditahan.

Namun, dalam setiap kesusahan selalu terselip ‘hiburan’. Hiburan itu berupa menumpuknya ratusan kendaraan di Prupuk Tegal dan indikator bensin E.

Untuk mengantisipasi mobil mogok di tengah jalan, saya terpaksa membeli dari pengecer dengan harga di atas pasaran Rp15.000/liter karena stok BBM di dua SPBU yang saya lewati di Brebes sudah ludes sehari sebelumnya. Guna menghemat bensin, air conditioner terpaksa dimatikan walaupun tak terlalu signifikan mengirit pembakaran bensin.

Cerita ‘hiburan’ dimulai ketika kendaraan para pemudik tidak bergerak sama sekali alias parkir di tempat karena pemberlakuan buka-tutup di perlintasan kereta api Prupuk oleh kepolisian setempat.

Melihat anak kegerahan di dalam mobil, saya keluar untuk mencari SPBU terdekat dengan berlari. Ya, berlari. Berlari di saat cuaca sedang teriknya di siang bolong selepas Zuhur.

Rupanya berlari di antara deretan kendaraan menawarkan keasyikan tersendiri. Adrenalin terpacu, jantung berdebar dan kaki tak mau berhenti bergerak. Mirip adegan film Hollywood di mana polisi mengejar penjahat di tengah kemacetan lalu lintas kota dibumbui insiden menabrak kap mobil.

Setelah berlari kurang lebih 3 kilometer, akhirnya saya menemukan SPBU. Antrean sudah begitu panjang didominasi para pemudik yang menenteng botol-botol kosong untuk diisi bensin.

Saat masuk ke antrean pembelian, saya baru tersadar bahwa saya tak bawa uang. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Terpaksa saya harus kembali lagi ke mobil untuk mengambil uang.

Setibanya di mobil, masih dengan berlari, perasaan saya makin terenyuh melihat anak, istri, saudara kegerahan tak karuan akibat pendingin yang sedari tadi dimatikan. Perasaan sedih itu menjadi penyemangat saya berlari lebih cepat menuju SPBU. Wuss.

Petugas SPBU membatasi pembelian premium Rp100.000 per orang. Butuh waktu dua jam untuk mendapatkan bensin yang saat itu sudah menjelma seperti barang langka prasejarah.

Di waktu bersamaan kemacetan mulai terurai. Mobil berhasil keluar dari jerat kemacetan dan dapat mendekat ke SPBU. Bensin kemudian saya tuangkan ke tangki mobil agar langsung dapat menyalakan pendingin.

Khawatir SPBU-SPBU di sepanjang jalur mudik tak memiliki pasokan karena truk pembawa BBM terjebak macet, mobil saya arahkan ke jalur antrean untuk mengisi lagi bensin agar tangki terisi penuh.

Antrean kendaraan di SPBU tak kalah gilanya dengan antrean orang. Pembelian sama-sama dibatasi. Saya ikut mengantre lagi dengan berbekal botol-botol kosong yang tadi. Biar capek sekalian, pikir saya waktu itu.

Di tengah antrean, azan Magrib berkumandang menandai waktu berbuka puasa. Rasa dahaga hilang seketika dengan seteguk minuman yang dibagikan gratis oleh petugas masjid di SPBU. Alhamdulillah.

Berbuka puasa bersama para pemudik yang tak saling mengenal sambil berdesakan antre membeli bensin di suatu daerah antah-berantah memberikan makna mendalam tentang indahnya Ramadan dan kemanusiaan.

Pemandangan humanis berserakan di sudut-sudut SPBU: berbagi makanan, berbagi cerita, berbagi keluh kesah. Momen-momen itu menjadi kenangan mengharukan yang selalu diingat setiap kali Ramadan sekaligus menjadi sejarah perjalanan mudik paling tragis di Indonesia.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.