Aturan Lari Selama Pandemi

Aturan Lari Selama Pandemi

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah Covid-19  sebagai pandemi global. Alasannya, tingkat penyebaran dan penularan virus asal Wuhan itu sudah sangat parah dan mengkhawatirkan.

Sejumlah negara termasuk Indonesia mengambil langkah darurat untuk menyetop penyebaran Covid-19. Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 tahun 2020 dan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2020.

Sekolah, pasar, kantor, mal, pusat bisnis, rumah ibadah dan tempat wisata serta transportasi publik dibatasi dan ditutup sementara kegiatannya terutama yang berada di zona-zona bahaya Covid-19.

Sejumlah lomba lari ikut dibatalkan akibat adanya larangan berkumpul di tempat umum. Tapi ada juga yang menunda hingga beberapa bulan ke depan sembari melihat perkembangan situasi.

Namun begitu masyarakat tetap diperbolehkan berolahraga terbatas di tempat umum merujuk pada Peraturan Kementerian Kesehatan (Permenkes) nomor 9 tahun 2020 tentang PSBB.

Pasal 7 Permenkes itu menyebutkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat termasuk olahraga dikecualikan dari pembatasan kegiatan di tempat umum. Itu berlaku juga untuk pasar, supermarket, apotik, toko sembako, SPBU, energi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Pengecualian tetap berpedoman pada protokol kesehatan, pembatasan kerumunan orang, menjaga jarak antarmanusia, rutin mencuci tangan dan mengenakan masker.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengatur pelaksanaan kegiatan berolahraga dengan menerbitkan Pergub DKI nomor 33 tahun 2020 tentang PSBB.

Pada pasal 15 dijelaskan berolahraga dapat dilakukan secara terbatas, mandiri dan tidak berkelompok di lingkungan tempat tinggal. Sayangnya, aturan itu tak dibarengi dengan dikeluarkannya protokol olahraga.

Walau aturan-aturan itu membolehkan olahraga di luar rumah secara terbatas namun tak banyak pelari yang melakukannya. Mengapa bisa demikian?

Well, sebelum membahas jauh persoalan itu, sebaiknya ketahui lebih dulu inti masalah yang tengah dihadapi, ditinjau dari berbagai sudut pandang.

Saya menggunakan dua rumus sederhana: cerdas dan rasional. Pertama, ketahui dulu virus Covid-19 itu sendiri. Caranya, cari dan pilih informasi kredibel dari badan-badan resmi seperti WHO dan Kementerian Kesehatan. Jangan mengikuti kabar yang belum jelas kebenarannya dan teruji secara ilmiah. Apalagi sampai termakan hoaks dan ikut menyebarluaskan ke media sosial. Cerdaslah dalam memilih sumber informasi. Remember, you are what you consume of news. 

Kedua, bersikap rasional. Sikap rasional dapat ditentukan oleh tingkat literasi seseorang. Semakin pintar ia mengolah informasi dan pengetahuan, semakin aman hidupnya dari gangguan paranoia, berkhayal terlalu jauh justru menjauhkan diri dari sains.

Apa yang harus dilakukan pertama kali ketika menerima informasi? Jangan langsung ditelan mentah-mentah. Saring terlebih dahulu. Pelajari mendalam. Bandingkan dengan sumber primer lainnya. Sikapi dengan logis dan tak terburu-buru membagikan ke grup-grup percakapan online, yang belum tentu benar dan bermanfaat.

Sebab, mengunyah informasi menyesatkan dapat membuat kita buta arah, irasional, ketakutan, cemas, keliru berpikir, salah mengambil keputusan dan mengaburkan fakta yang sesungguhnya.

Masih ingat aksi memborong bahan pangan di tengah kepanikan (panic buying) saat virus Covid-19 mulai menginfeksi Indonesia? Tindakan menimbun barang belanjaan ini menjalar sangat cepat di media sosial. Masyarakat lalu meniru, tertular dorongan emosi, kecemasan, ketakutan dalam menghadapi bayangan krisis. Jelas perilaku ini sebagai aksi irasional yang tak dibenarkan.

Kembali ke persoalan utama. Dengan bermodal cerdas dan rasional tadi, berolahraga di luar rumah dapat berjalan dengan aman. WHO menegaskan virus Covid-19 menular lewat cipratan (droplet) air liur, bukan lewat udara (airbone) melalui pintu masuk organ mulut, hidung dan mata.

Maka dapat disimpulkan bahwa virus Covid-19 menular dari orang ke orang, bukan dari hewan ke orang, bukan juga dari tumbuhan ke orang. Penularan virus Covid-19 hanya melalui perantara manusia. Covid-19 tidak ujug-ujug datang menyerang tubuh lantaran seseorang jarang mandi, kan.

Kalau begitu hindari manusia. Berlarilah di luar kebiasaan. Sebelum atau setelah salat subuh atau malam di mana pada jam-jam tersebut tidak ada orang. Masuk akal?

Ya, karena itulah yang saya lakukan selama pandemi. Berlari sendiri dengan mematuhi protokol kesehatan, menjaga kebersihan diri dan menjaga jarak aman. Walau anjuran terakhir tak berlaku saklek sebab sering kali ketika tengah berlari hampir tak pernah menjumpai orang di jalur lari.

Nah, sampai sini cukup jelas bahwa lari di luar rumah, selama seorang diri, tidak dilarang. Yang perlu disiasati adalah pemilihan waktu dan lokasi berlari. Dan jangan lupa, olahraga teratur dapat meningkatkan imunitas tubuh dalam menangkal virus mematikan seperti Covid-19.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.