Maraton Covid-42

Maraton Covid-42

Gara-gara ulah Pan Shancu, pelari di seluruh dunia terjangkit virus maraton ‘Covid-42’. Pria asal Hangzhou, Tiongkok, itu berhasil melampiaskan hasrat berlari di tengah larangan beraktivitas di luar rumah akibat wabah virus Covid-19.

Ia berlari 50 kilometer di dalam apartemennya. Mengitari dua meja besar di sudut ruangan, bolak-balik dari depan ke belakang sebanyak 6.250 putaran.

“Aku sudah tidak keluar rumah selama berhari-hari, hari ini saya tak bisa hanya duduk berdiam diri,” ujar Pan dalam unggahan Weibo seperti diwartakan South China Morning Post, 4 Februari 2020.

“Saya berlari mengitari dua meja besar. Satu putaran sejauh 8 meter dan saya telah berlari kurang lebih 50 km dalam 4:48:44. Keringat saya bercucuran dan rasanya menyenangkan,” kata Pan yang memiliki waktu terbaik maraton 2 jam 59 menit itu.

Gareth Allen, 47 tahun, langsung tersengat mendengar berita Shancu. Ia lantas mengukur halaman belakang rumahnya di Southampton, Inggris. Disaksikan lebih dari 4.000 orang melalui siaran langsung facebook, Allen menuntaskan 42 kilometer atau 1.066 putaran selama enam jam.

“Saya mendapat banyak dukungan luar biasa saat siaran langsung, yang datang dari seluruh dunia. Keluarga saya terlibat dan mulai membacakan komentar-komentar yang masuk, itu memberi saya semangat untuk terus berlari”, katanya kepada Runner’s World UK.

Elisha Nochomovitz, 32 tahun, manajer sebuah restoran juga melakukan hal yang sama. Namun bedanya ia berlari di balkon apartemennya di kota Balma saat pemerintah Perancis menerapkan karantina wilayah. Ia lari sebanyak 6.000 putaran atau setara 42 kilometer dalam waktu 6 jam 48 menit.

“Saya tidak bisa membantu mereka [penderita Covid-19] di rumah sakit, tapi mungkin saya bisa membuktikan kepada semua orang bahwa Anda dapat [berolahraga] di rumah,” katanya kepada CNBC.

Indonesia tak ketinggalan. Pelari asal Jakarta, Uci Sanusi, melahap 42 kilometer selama 4 jam 15 menit di jalan raya. Ia melakukannya pada saat aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ia beralasan, “tidak semua olahraga bisa dilakukan di rumah, apalagi yang tinggal di indekos yang sempit. Saya pribadi untuk latihan endurance lebih suka outdoor. Untuk latihan strength dan mobility baru dilakukan di indoor,” tulis Uci di akun instagram-nya.

“Selama kita melakukan semua protokoler tentang lari outdoor di masa pandemi ini saya rasa itu [lari di luar ruang] merupakan sesuatu yang lumrah,” tambahnya.

Foto/Video: Instagram

Nah bagaimana dengan kamu, runners? Mending lari di rumah atau tetap lari di luar rumah dengan mematuhi protokol kesehatan?

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.