Proyek #RunMadan300KM 2020 Ditiadakan

Proyek #RunMadan300KM 2020 Ditiadakan

Dua pekan sebelum Ramadan biasanya saya melakukan simulasi lari pagi 10 kilometer (km) dalam keadaan berpuasa. Bila kebetulan hari itu libur kerja, saya melanjutkan lagi lari separuh jarak pada sore menjelang waktu berbuka puasa.

Simulasi dilakukan dua sampai lima hari. Tujuannya semata-mata hanya untuk membaca reaksi tubuh saat berlari dalam keadaan perut kosong. Kegiatan ini saya jadikan sebagai fase pemanasan.

Hasil simulasi lari 10 km cukup membantu saya menyiapkan strategi ke depan sebelum menjalankan proyek #RunMadan300KM, lari dalam keadaan berpuasa dengan target tempuh 300 km atau rata-rata 10 km per hari selama bulan Ramadan. Proyek ‘menjaga kebugaran tubuh saat berpuasa’ ini sudah berjalan sejak 2017.

Namun melihat perkembangan situasi dan kondisi tanah air yang belum bebas dari virus Covid-19, dengan berat hati saya membatalkan proyek #RunMadan300KM yang kini memasuki tahun keempat. Ini sudah saya pikirkan tak lama setelah kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Joko Widodo, Senin, 2 Maret 2020.

Proyek #RunMadan300KM akan saya ganti dengan #SportAtHome sejalan dengan imbauan pemerintah. Namun bila memungkinkan lari, saya akan mencobanya setelah sahur atau malam hari di mana tidak ada orang atau kerumunan di lingkungan permukiman terdekat, jaraknya tentu lebih pendek dari 10 km.

Berolahraga saat berpuasa sebenarnya bukan sebuah tantangan khusus bagi saya. Itu seperti aktivitas normal saja sama halnya seperti makan, minum, tidur, bekerja, nongkrong, bermain, dst.

Tantangan terberatnya justru datang dari sang waktu. Ya, waktu. Waktu berlari yang amat sempit: selepas azan Subuh sampai sebelum azan Magrib berkumandang. Mepetnya waktu dikarenakan harus dibagi dengan urusan kantor, rumah tangga dan keluarga. Di sini kepiawaian membagi waktu harian sangat dibutuhkan.

Sedangkan larinya sendiri tetap menyesuaikan dengan jam kerja. Bila kerja pagi, lari dilakukan sebelum berbuka puasa. Bila kerja sore, lari dilakukan setelah Subuh. Tak jarang saya lari di treadmill kantor pada jam kerja. Namun sebisa mungkin saya menghindari jadwal kerja malam karena dapat mengganggu jam tidur produktif yang berdampak buruk bagi ritme lari.

Sebab, bila berantakan sekali saja, itu dapat mengancam kelangsungan perolehan jarak tempuh di kemudian hari. Contohnya seperti pada Ramadan 2018. Jarak tempuh tidak tercapai karena sekeluarga harus mudik ke kampung halaman di Purbalingga, Jawa Tengah.

Dengan terpaksa di hari berikutnya, saya harus melunasi utang kilometer yang kemarin bolong. Butuh kerja ekstra menambah jarak lari di luar kebiasaan.

Asal tahu saja proyek iseng-iseng #RunMadan300KM ini tak sepenuhnya berjalan lancar, ada saja kendala yang dihadapi. Akibatnya mudah ditebak: perolehan mileage dalam tiga tahun mengalami fluktuatif cenderung tidak stabil.

Jarak paling rendah terjadi pada 2019 yaitu 160 km, turun drastis dibanding tahun sebelumnya mencapai 298 km. Sedangkan pada 2017, ketika awal mula proyek ini digagas, hanya mampu mencetak angka 220 km.

Well runners, itulah cerita pendek proyek #RunMadan300KM yang awalnya cuma untuk melawan rasa malas berlari di kala berpuasa, akhirnya bisa konsisten dijalankan selama tiga tahun. Semoga kisah ini menginspirasi kamu menyiasati waktu berolahraga di bulan puasa.

Selamat menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriah. Semoga kita diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan segala aktivitas. Mohon maaf lahir dan batin. Salam olahraga!

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.